Kehidupan dan Kepergian Cerpenis Danarto yang Mirip Cerpen

akurat logo
Herman Syahara
Rabu, 11 April 2018 13:46 WIB
Share
 
Kehidupan dan Kepergian Cerpenis Danarto yang Mirip Cerpen
Seorang seniman, Danarto. INSTAGRAM/jaringproject

AKURAT.CO, Membaca kisah hidup sampai wafatnya sastrawan Danarto (78) seperti membaca cerpen-cerpen yang ditulisnya. Ada bagian-bagaian yang menyentak pembacanya yang kemudian melahirkan perenungan. Coba saja, inilah ringkasan peristiwa kecelakaan yang merenggut nyawanya: Senin (10/4) sekitar jam 13.30 kemarin almarhum dikabarkan hendak menyeberang jalan dari arah Kampung Utan Ciputat, Tangerang Selatan, menuju kantor Cabang BRI di daerah situ juga.

Pada saat bersamaan sebuah motor yang dikemudikan Surya Lesmana (20) melaju dengan kecepatan cukup tinggi dari arah Ciputat menuju Lebak Bulus. Di dekat sebuah showroom motor kecelakaan itu pun tak terhindarkan. Tubuh Danarto yang gempal dihajar motor itu sampai tak sadarkan diri. Dari kupingnya meleleh darah. Ini terlihat dari kapas yang disumbatkan di telinganya saat Danarto masih terbaring tak sadarkan diri di rumah sakit. Besar kemungkinan kepala Danarto terpelanting ke aspal sehingga menyebabkan pedarahan dalam. Si penabrak ternyata tetangga korban yang orangtuanya kenal baik dengan Danarto.

Polisi yang datang ke tempat kejadian perkara (TKP) sempat kesulitan mengidentifikasi karena di saku korban tak menemukan identitas. Petugas Polsek Ciputat itu pun berinisiatif mengontak salah satu nomor yang ada di telepon genggam Danarto, yang ternyata itu nomor Agus Sarjono, rekan korban. Penyair yang juga dosen itu tak bisa berbuat banyak karena sedang di Bandung. Dari sinilah kemudian kabar kecelakaan Danarto menyebar dari akun facebook kawan yang satu ke akun facebook kawan yang lain. Yang intinya semacam “kabar SOS” agar  kawan terdekat dengan TKP untuk segera menangani korban yang  telah dievakuasi ke sebuah rumah sakit di depan UIN Syarief Hidayatullah Ciputat

Namun karena keterbatasan peralatan, korban dirujuk ke RSUD Fatmawati. Di sinilah, di ruang UGD, ditunggui sejumlah teman dan kerabatnya seprofesi. Jam 20.54 WIB, Danarto dinyatakan pergi untuk selamanya tanpa disaksikan sanak keluarga. Karena menurut sejumlah kalangan, dia hidup hanya bersama buku-bukunya di sebuah rumah kontrakan di kawasan Ciputat. Perkawinannya hanya bertahan 15 tahun. Tadi malam juga, setelah dijenguk Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dan Menteri Agama Lukman Syaifuddin, jenazah langsung diantarkan ke kampung halamannya, Sragen, Jawa Tengah.

Seperti kehidupan sastrawan Indonesia di hari tuanya, Danarto pun jatuh bangun. Dia hanya mengandalkan pencaharian dari menulis cerpen, esai, dan melukis. Yang tentu saja semakin surut seiring bertambahnya usia. Di tengah keterbasan fisik, dia pun masih suka membeli buku dan membaca. Beberapa rak buku memadati rumah kontrakannya.   

Dalam peta kesusastraan Indonesia, pengamat sastra dari FIB Universitas Indonesia Maman S Mahayana menyebut Danarto adalah salah seorang cerpenis terbaik Indonesia. Sastra Indonesia, katanya, kehilangan sosok sastrawan penting negeri ini.

"Kita sungguh berduka! Indonesia berbela sungkawa! Kini kita hanya dapat bertegur sapa dengannya lewat sejumlah cerpennya yang inspiring. ‘Lempengan-Lempengan Cahaya,’ ‘Rintrik,’ ‘Rebulan di Dasar Kolam,’ ‘Asmarandana,’ ‘Abracadabra’ atau sebuah cerpennya yang judulnya bergambar hati dengan anak panah yang mengucur darah," tulis Maman Mahayana di akun facebooknya beberapa saat setelah korban meninggal.

Cerpen-cerpen Danarto, menurut Maman, berhasil mengangkat sastra Indonesia di mata dunia. Cukup banyak karya Danarto yang sudah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa asing. Namun demikian Danarto, tetaplah seorang yang tawaduk dan rendah hati. Bersama Abdul Hadi WM, Sutardji Calzoum Bachri, Kuntowijoyo, Fudoli Zaini, Arifin C Noer, Rendra, Putu Wijaya, dan sederet panjang sastrawan seangkatannya, sastrawan kelahiran Sragen, Jawa Tengah, 27 Juni 1940, gencar menyuarakan sastra sufistik yang lalu ramai menjadi polemik di berbagai media massa dasawarsa 1980-an.

“Spirit kultural Danarto adalah ‘Kembali ke Akar, Kembali ke Sumber’ telah membuka ruang kebebasan berkreasi seniman berbagai cabang seni untuk menggali dan mengaktualisasikan tradisi dan akar budaya yang melahirkan dan membesarkan sastrawan kita,” papar Maman.

Maka, lanjut dia, mistik Jawa berkelindan dengan tasawuf atau filsafat eksistensialisme, sebagaimana yang dapat kita jumpai dalam karya-karya Danarto, Kuntowijoyo atau Fudoli Zaini. Dongeng yang tak perlu repot-repot dengan logika formal, menjadi kisah jungkir-balik yang memukau dan mengasyikkan. Cerpen-cerpen Danarto menjadi kisah yang penuh sihir dan kita, pembaca, asyik-asyik saja menikmatinya.

“Gerakan eksperimentasi pun naik daun. Sumber-sumber spiritualitas mistik Jawa, Bali, Melayu, Cirebon, dunia pesantren, dongeng dalam tradisi lisan, dan mitos-mitos yang bertebaran dalam kultur etnik Nusantara, seketika menjadi seni kontemporer yang modern dan absurd. Lalu muncullah berbagai istilah asing, seperti absurdisme, stream of consciousness (arus kesadaran), realisme magis, dan entah apa lagi, disematkan pada karya para sastrawan yang kemudian disebut sebagai Angkatan 70. Danarto lewat antologi cerpennya Godlob, Adam Ma’rifat, Berhala, Gergasi, dan Setangkai Melati di Sayap Jibril, tetap menjulang sebagai maestro,” urai peneliti sastra dan budaya yang pernah menjadi dosen tamu di Hankuk University of Foreign Studies, Seoul, Korea Selatan pada 2009-2014 itu.

Danarto, lahir di Sragen 27 Juni 1940.  Pernah kuliah di ASRI Yogyakarta dan aktif  di Sanggarbambu pimpinan Sunarto Pr, yang mereka dirikan bersama-sama di Jakarta. Pengalaman ke mancanegara dialaminya antara lain pada  1976 almarhum  mengikuti International Writting Programme di Iowa, AS, serta mengikuti Festival Penyair Internasional di Belanda tahun 1983. Sedangkan di dunia media pernah menjadi redaktur majalah Zaman (1979-1985) dan  Harian Republika.  Di panggung akting dia tercatat pernah bergabung di Teater Sardono tahun 1974 dan sempat  pentas di Eropa. Pada 1973 dia menggelar pameran “Kanvas Kosong” dan pameran puisi konkret tahun 1978.

Berikut adalah salah satu puisi karya almarhum yang bernuansa sufistik:

KOLAM

Ya, Allah, Tuhan Yang Mahakepujian.

Tunjuki hamba, kolam yang mana yang 

mesti hamba mandi. Rasanya hamba kembali

kotor padahal hamba baru saja selesai mandi.

Kolam ini bersih, sejernih lantai istana

Nabi Sulaiman.

Bahkan Engkau bisa becermin di dalamnya.

Menghitung jumlah hamba-hambaMu yang

Engkau kasihi.

Jangan, Tuhan, jangan. Jangan dulu diganti

umat yang baru, meski kami banyak

melanggar aturan.

Kami memang pemalas, mau menang sendiri,

suka iri kepada orang lain, amburadul dalam

bekerja. Namun, kami beribadah terus memohon

jalan lurusMu.

HidayahMu, ya, Allah, hidayahMu. Ulurkan

tanganMu, karuniai kolamMu, menolong

bangsa ini yang hancur-hancuran.

20.1.2005


Editor. Erizky Bagus Zuhair

 

Rekomendasi

 

 

News Feed

Merasa Dizhalimi, PSI Laporkan Ketua Bawaslu ke DKPP

Rabu, 23 Mei 2018 18:49 WIB

Bawaslu bertindak melebihi batas kewenangannya sebagai penyelenggara pemilu yang diatur dalam undang-undang.


Mendag Minta Jangan Hanya Lihat 3 komoditas yang Harga Naik

Rabu, 23 Mei 2018 18:48 WIB

Menteri Enggar nyatakan bahwa tiga komoditas pangan yang harganya cenderung naik tersebut masih dalam batas rata-rata.


Hingga Mei, Premi AJB Bumiputera Capai Rp1,2 Triliun

Rabu, 23 Mei 2018 18:44 WIB

Penerimaan premi sejak tanggal 1 Januari s.d. 9 Mei 2018 telah mencapai Rp1,2 trillun yang berasal dari 417.233 polis


SBY: Serangan Teroris Beberapa Saat Lalu Nyata, Saya Tak Latah Berkata Pengalihan Isu

Rabu, 23 Mei 2018 18:42 WIB

Menurut Yudhoyono definisi terorisme yang ditawarkan pemerintah baik, tajam, fokus, dan relevan.


Jasa Marga Bakal Berlakukan Sistem Pentarifan Tol Merata, Cek Disini

Rabu, 23 Mei 2018 18:42 WIB

Dengan adanya perubahan sistem pentarifan pengguna jalan tol yang melakukan perjalanan lintas seksi cukup melakukan satu kali transaksi


KPU dan Kandidat Gubernur Buat Pernyataan Bersama

Rabu, 23 Mei 2018 18:38 WIB

KPU juga membuat pernyataan kandidat harus melakukan kampanye yang sopan, bijak, serta beradab.


PP Gaji ke-13 Diteken, Presiden Jokowi: Pensiunan Juga Dapat THR

Rabu, 23 Mei 2018 18:18 WIB

Jokowi berharap kerja ASN makin meningkat.


HTC Rilis Smartphone Seri U12 Plus dengan Sisi Sensitif Genggaman

Rabu, 23 Mei 2018 18:17 WIB

Menurut pengamat perkembangan gadget, seri U12 lebih ergonomis dan lebih mudah dioperasikan daripada U11.


Food Jenga, Tren Menumpuk Makanan yang Lagi Viral di Instagram

Rabu, 23 Mei 2018 18:17 WIB

Makanan disusun mirip permainan jenga.


Lakso, Menu Buka Puasa Favorit Warga Pangkalpinang

Rabu, 23 Mei 2018 18:09 WIB

Dimakan pakai kuah ikan. Hemmm...!


Bartomeu: Griezmann? Tunggu Sampai Juli

Rabu, 23 Mei 2018 18:05 WIB

"Kami harus menyelesaikan perjalanan dan mulai 1 Juli kami akan membicarakan tentang (pemain) yang (harus) dinaikkan dan diturunkan."


Bercerai, Nicky Tirta Masih Jalin Komunikasi dengan Istri

Rabu, 23 Mei 2018 18:04 WIB

Hal ini dilakukan untuk menjaga anak mereka, Naara Ellyna Tirta.


Pengamat: Kompaknya TNI-Polri Untungkan Elektabilitas Jokowi

Rabu, 23 Mei 2018 18:04 WIB

Rakyat juga merasa nyaman dan terlindungi sehingga suasana tetap tenang, aman terkendali.


Hendra/Ahsan Paksa Pertarungan Ditentukan di Partai Kelima

Rabu, 23 Mei 2018 18:03 WIB

Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan berhasil menundukkan wakil Korea Selatan, Choi Solgyu/Kim Dukyoung lewat rubber gim 21-14, 18-21 dan 21-15.


Sambil Malu-malu, Fairuz A Rafiq Sebut Arti Nama Putri Pertamanya

Rabu, 23 Mei 2018 18:00 WIB

Bayi mungil itu diberi nama Queen Eijaz Slofa.